Kesan

none

Berlin DJ Night

Pada tanggal 10 Desember „Jerman Fest“ menutup rangkaian kegiatan dengan acara Malam DJ Berlin dan mengucapkan terima kasih kepada para tamu, mitra, dan sponsor.

Pesta penutupan dirayakan di bar terbuka yang populer, "Lucy in the Sky" di Jakarta Selatan. DJ Nils Ohrmann dan DJ Who:be menyajikan musiknya. Nils Ohrmann menyebut dirinya sebagai "pencerita di lantai dansa" dan turut mendirikan label "Arms & Legs" pada tahun 2011. Dia juga bekerja sebagai produser dan secara luas dianggap sebagai salah satu tokoh yang cukup berpengaruh di ranah klub Eropa. Sedangkkan DJ Who:be telah aktif di dunia musik elektronik sejak tahun 1994 dan pada tahun 2002 ia mengambil alih Klub Goldengate yang terkenal di Berlin. Efek visual selama pesta penutupan dihadirkan oleh Dorotea Etzler atau lebih dikenal sebagai VJane Lazyliu.
none

Ensemble Modern - Ruang Suara

Teaser

none

WAWANCARA

dengan Iswanto Hartono

Sebetulnya awal saya bersentuhan dengan dunia seni rupa justru diawali dengan bekerja sama dengan seniman-seniman dari kalangan performance art. Selesai belajar arsitektur di Universitas Tarumanegara Jakarta, saya belajar seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tetapi, kuliah seni rupa itu tidak saya selesaikan, hanya selama dua tahun. Setelah itu baru saya mendapat beasiswa untuk...
 
 

Market Share

Tobias Rehberger & Ade Darmawan

none

Andreas Stichmann

fadeIn
none
none
Anak-anak SD keluar dari pekarangan sekolah dan melihat si Jerman, yang berkata kemarin sudah sempat bertemu dan berfoto ria bersama mereka, tapi sepertinya akan ada adegan ulangan. Mereka pun langsung mengerumuninya. Mereka memeluk kakinya dan merangkulnya dari kiri dan kanan. Dan ia mematung sambil tersenyum. Terus saja berdiri di tempat. Ia tidak paham bahwa ia harus aktif melepaskan diri agar mereka berhenti. Instagram, Facebook, Pinterest: Fotofotofotofoto.
none
fadeIn

WAWANCARA

dengan Arief Widhiyasa - CEO Agate Studio

Saya sudah jatuh cinta pada gaming sejak awal masa kanak-kanak saya. Saya bahkan belum bisa membaca saat itu, tetapi sudah menghabiskan waktu berjam-jam bermain NES console. Saya menyukai games sejak mereka memberikan kita berbagai macam pengalaman dari berbagai perspektif. Saya juga belajar banyak dari semua gaming yang pernah saya mainkan sejauh ini, baik itu pengetahuan langsung, seperti bahasa, sains dan sejarah, maupun pelajaran hidup.

WAWANCARA

dengan Nora Scheidler & Rangga Purbaya

''Stories Left Untold“, sebuah pameran foto yang dikuratori oleh Budi N.D. Dharmawan ini memotret jejak memori yang terlupakan dan terkunci di masa lalu dalam sejarah Jerman dan Indonesia melalui proses pencarian ...

 

WAWANCARA

dengan Ulla Lenze

fadeIn

Perbincangan dengan Ulla Lenze dalam rangka program residensi penulis

Sebelum residensi ini Anda sudah sering bepergian. Seperti apa bayangan Anda mengenai kunjungan ke Indonesia?

Saya berangkat ke Indonesia dengan rasa ingin tahu yang besar. Di Berlin saya sempat berbincang dengan sejumlah wartawan yang baru saja kembali dari sana, dan juga dengan suami-istri penerbit Weidle, yang baru-baru ini meluncurkan novel “Pulang” karya Leila S. Chudori. Saya juga sudah membaca beberapa novel lain. Ada tema-tema tertentu yang menarik perhatian saya, misalnya skena sastra Indonesia, termasuk “fenomena” Andrea Hirata, yang menjadi semacam pahlawan nasional berkat kisah suksesnya (dari anak buruh miskin menjadi pengarang yang berhasil menerobos pasar internasional).

none

WAWANCARA

dengan Band EINSHOCH6

none
none
none
Pada tanggal 1 Oktober 2015, band asal Jerman EINSHOCH6 memulai turnya di Indonesia. Tur ini dimulai di Denpasar dengan sebuah workshop sebelum mengunjungi jantung pulau Jawa, Yogyakarta, untuk mengakhiri perjalanannya. Kami telah berbicang dengan para musisi tentang konsep dari band EINSHOCH6 dan perjalanan mereka ke Indonesia.

Siapakah band EINSHOCH6 itu dan apa tujuan kalian selanjutnya sebagai musisi?

EINSHOCH6 adalah 9 orang musisi dari kota Munich yang mencoba mengkombinasikan dua genre musik, yaitu hip-hop dan musik klasik. Kami bertujuan untuk membebaskan diri dari batas-batas musik; melihat pendekatan ini berhasil dan diterima dengan baik merupakan kenikmatan besar bagi kami, tidak peduli apakah itu berlangsung di sebuah klub atau di panggung lokasi klasik. Bersama Deutsche Welle, kami mengembangkan sebuah panggung, “Diari Band Bersama EINSHOCH6” yang membantu ...
none

WAWANCARA

dengan Antje Rávic Strubel dalam rangka program "artist-residence"

none
none
none

Sebelum mengikuti program residensi untuk penulis, Anda sudah pernah mengunjungi Indonesia. Hal apa yang membuat Anda tergerak untuk tinggal lebih lama di Indonesia? Harapan apa yang Anda nantikan?

Kunjungan pertama saya ke Indonesia pada waktu itu berlangsung dalam rangka perjalanan dinas kenegaraan, hal ini berarti bahwa hanya sedikit saja kesan tentang sebuah negara yang didapat, tidak lebih dari sebuah hotel dan beberapa tempat wisata ternama. Namun dalam perjalanan ini saya justru mendapatkan sedikit pandangan mengenai topik-topik utama di bidang politik luar negeri terkini...
none

WAWANCARA

dengan Sandra Havlicek

Dalam rangka Jerman Fest, seniman muda Sandra Havlicek menciptakan instalasi "Tivoli To Go” untuk lobi Goethe-Institut. Kami sempat berbincang-bincang dengannya mengenai konsep karyanya dan pengalamannya selama di Indonesia.

Pertama-tama, bolehkah kami tahu sedikit mengenai latar belakang Anda?

Saya tinggal di Frankfurt am Main. Saya lahir di sana dan kuliah mula-mula di Sekolah Tinggi Desain di Offenbach, kemudian di Städelschule. Itu 4 tahun lalu. Frankfurt relatif kecil, tapi saya punya jaringan yang sangat bagus di sana, sehingga bisa bekerja dengan baik. Karena itu juga saya memutuskan menetap di sana setelah lulus kuliah. Cita-cita saya sebenarnya menjadi...
none
none

Pembukaan Jerman Fest di Indonesia dimulai dengan "Metropolis" dan Film Orchestra Babelsberg

WAWANCARA

bersama Retrofuturisten

Kalian telah bertemu Papermoon dua kali sebelum memasuki fase kerja pertama bersama-sama di Yogyakarta akhir Juni lalu. Apakah ekspektasi kalian?

Kami mempelajari tentang cara seni hidup di Indonesia, dan khususnya di Yogyakarta yang terlihat akan menjadi sebuah pusat kebudayaan di Jawa. Sejak kami mulai bekerja dengan para pelajar di Berlin yang juga berpartisipasi dalam ko-produksi ini, kami sangat ingin tahu tentang bagaimana...
none
none

WAWANCARA

none

dengan Klaus-Peter Beyer
pendiri dan pimpinan Orkestra Film Babelsberg

none
Pak Beyer, bagaimana cerita di balik pembentukan Orkestra Film Babelsberg? Apakah ada dorongan atau motivasi tertentu yang berperan penting di sini?

Dorongannya adalah aspek sejarah. Di Babelsberg sudah sejak 1918 ada orkestra film yang didirikan dan dijalankan oleh UFA, atau “Universum Film AG”. Tahap perkembangan pertama itu berlanjut sampai akhir perang [dunia kedua]....

none

WAWANCARA

Perjalanan sastra keliling Indonesia

none
none
none

Seperti apa bayangan kalian mengenai Indonesia sebelum berangkat?

Leif Randt: Saya sempat dapat info dari teman: “Orangnya ramah”, “udaranya panas dan lembab”, “alamnya luar biasa”. Andreas Stichmann: Saya tidak punya bayangan sama sekali. Saya belum tahu apa-apa tentang negeri ini dan sengaja tidak terlalu banyak mencari tahu dengan membaca, karena ingin melihat segala sesuatu tanpa praduga...
none

WAWANCARA

fadeIn

Wawancara Sebastian Matthias dengan Dinyah Latuconsina dari Goethe-Institut Indonesien

Bisa ceritakan sedikit tentang diri Anda dan pengalaman Anda belajar dan bekerja di Amerika Serikat?

Saya tidak berasal dari keluarga seniman seperti yang mungkin Anda bayangkan. Ayah saya seorang arsitek, sementara ibu saya seorang guru. Di keluarga kami cuma saya yang mengejar karir di bidang seni. Sejak umur enam tahun saya telah mulai menari. Saya mengikuti beberapa audisi di Munich, Den Haag dan Paris...

none

VIDEO TERBARU

Papermoon bertemu Retrofuturists

Berlin Radio Choir

Science Film Festival

German Cinema

volution / groove space

Tobias Rehberger

RuangRupa dan Seniman Eropa Berkarya di Pasar-pasar Tradisional



Oleh Tunggul Wirajuda

Pemandangan pasar tradisional Jakarta sama bervariasinya dengan populasi dan budaya kotanya yang beragam. Pada umumnya, pasar tidak hanya menjadi sebuah tempat utama yang menyediakan produk segar, daging atau makanan lainnya, tetapi juga komoditi lain seperti binatang peliharaan dan batu permata...

 
 
fadeIn

WAWANCARA

Nicolas Fink

Musik sebagai bahasa universal

Nicolas Fink telah menjadi asisten dirigen di Rundfunkchor Berlin sejak tahun 2010, dimana ia telah melatih paduan suara untuk berbagai proyek pementasan grup tersebut. Dalam rangka Jerman fest, Rundfunkchor Berlin melakukan perjalanan ke Indonesia bersama 25 penyanyi untuk tampil bersama dengan Paragita - paduan suara dari Universitas Indonesia (Jakarta), paduan suara Unpad (Bandung), dan E-Deum Choir (Medan). Pada akhir April 2015 Nicolas Fink datang ke Indonesia untuk sesi latihan pertama di tiga kota. Kami berbincang dengannya tentang pengalaman dan kesan dari perjalanannya.
none


LEIF RANDT

Selama empat minggu, beberapa penulis terkemuka asal Jerman telah mengalami langsung keberagamaan budaya Indonesia.
Pada bulan Mei hingga Juni 2015, Leif Randt dan Andreas Stichmann telah melakukan serangkaian perjalanan di pulau Jawa dan Sulawesi serta bertemu dengan penulis-penulis, jurnalis, pelajar dan seniman lainnya.

none

Leif Randt di Bakoel Koffie di Cikini, Jakarta Pusat. (Photo credits: © Lisna Dwi A.)

none

Leif Randt dan Dr. Iwan Gunawan, Dekan Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta. (Photo credits: © Lisna Dwi A.)

none
Pengarang asal Jerman, Leif Randt, menyusuri Jakarta menggunakan Bajaj. (Photo credits: © Lisna Dwi A.)
none

Mitra Platinum Kami

none
„Kami senang dapat mendukung Jerman Fest karena ini merupakan peristiwa penting bagi hubungan Indonesia-Jerman. Kehadiran Bosch di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke tahun 1919, ketika produknya pertama kali dijual melalui agen. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menjual produk Bosch. Bosch dan pemegang saham utamanya, yaitu yayasan amal Bosch, telah menyoroti pentingnya pemahaman budaya selama bertahun-tahun dan mendukung proyek-proyek besar di bidang ini. Melalui Jerman Fest, Bosch mendukung pemahaman yang lebih baik antara budaya Jerman dan Indonesia - dengan melihat tidak hanya kesamaan, melainkan juga dengan belajar tentang perbedaan serta mendapatkan wawasan baru.
Mengingat Bosch adalah perusahaan multinasional, karyawan dan stakeholder lainnya tidak hanya harus memahami budaya lokal, tetapi juga memahami budaya Bosch yang sangat dipengaruhi oleh seorang warga nergara Jerman, Robert Bosch, yang mendirikan perusahaan ini hampir 130 tahun yang lalu. Inilah sebabnya mengapa Bosch di Indonesia sangat bersemangat dalam mendukung ‚Jerman Fest‘- rangkaian kegiatan ini meberikan kesempatan, khususnya kepada generasi muda, untuk memperoleh pemahaman budaya yang lebih baik.“
Ralf von Baer, Managing Director Bosch di Indonesia
none
„Selain menjadi hotel peninggalan bersejarah Indonesia, Hotel Indonesia kini dikelola oleh Kempinski, sebuah perusahaan asal Jerman, yang merupakan perusahaan hotel tertua di Eropa dan berdiri 1897. Salah satu keuntungan dari kerja sama ini adalah, bahwa kelihaian Kempinski dalam menciptakan tradisi, amat sesuai bagi sebuah hotel bersejarah seperti Hotel Indonesia. Kempinski juga menambahkan citarasa khas Eropa dan kemahiran pengelolaan hotel kedalamnya.
Berkat keterkaitan yang sangat berharga inilah, Hotel Indonesia Kempinski selalu mendukung kegiatan Jerman dan inisiatif, termasuk ‚Jerman Fest‘, dimana kami menawarkan bentuk dukungan dengan tingkatan tertinggi. Kami senang dengan adanya kerja sama ini, yang telah memberi kita kesempatan untuk membina ikatan budaya dan ikatan lainnya lebih erat antara Jerman dan Indonesia di bertahun-tahun yang akan datang.“
Alex Pichel, General Manager Hotel Indonesia Kempinski
none

TENTANG JERMAN FEST

Indonesia dan Jerman telah terhubung dalam sebuah persahabatan yang telah terjalin lama, baik pada tataran budaya, ekonomi maupun politik. Untuk merayakan hubungan baik ini, sebuah format acara menarik „Jerman Fest“ diselenggarakan dari September hingga Desember 2015.

SELENGKAPNYA

 

KONTAK

Jl. Sam Ratulangi 9-15, Jakarta 10350
Tel: (+62) 21 235 502 08
Faks: (+62) 21 235 500 21
info@jakarta.goethe.org

IMPRINT